Anda memasukkan nama perusahaan atau merek di kolom pencarian daftar sertifikat DJID, lalu hasilnya kosong. Kesimpulan pertama yang muncul biasanya salah: produknya belum bersertifikat. Padahal dari pemeriksaan kami terhadap 115.659 baris data, pencarian yang nihil lebih sering disebabkan cara pencatatannya, bukan ketiadaan sertifikat.

Berikut enam sebab yang benar-benar terlihat di data, diurutkan dari yang paling sering.

1. Nama perusahaan ditulis dengan gaya yang berbeda

Ini penyebab nomor satu, dan skalanya besar. Dalam database terdapat 6.400 ejaan nama pemohon, padahal setelah dirapikan hanya ada 5.199 badan usaha. Artinya sekitar 1.200 ejaan adalah tulisan lain untuk perusahaan yang sudah ada.

Contoh nyata, satu produsen elektronik besar tercatat dengan lima gaya penulisan sekaligus: dengan titik di belakang Inc, tanpa titik, dengan koma sebelum Inc, tanpa spasi setelah koma, bahkan seluruhnya dengan huruf kecil. Perusahaan lain tercatat empat gaya karena PT kadang di depan dan kadang di belakang.

Yang paling ekstrem, ada perusahaan yang di satu sertifikat tercatat sebagai PT dan di sertifikat lain sebagai CV.

Cara mengatasi: cari dengan potongan nama yang paling khas dan paling pendek. Bukan PT Bintang Cemerlang, cukup Bintang Cemerlang. Jangan sertakan PT, CV, Tbk, titik, atau koma.

2. Anda mencari dengan nama merek, sertifikatnya atas nama distributor

Sertifikat melekat pada pemohon, dan pemohon sering kali distributor atau agen sertifikasi, bukan pemilik merek. Beberapa pemegang sertifikat terbanyak di Indonesia justru perusahaan distribusi. Kami bahas di peringkat pemegang sertifikat terbanyak.

Cara mengatasi: cari berdasarkan merek atau tipe perangkat, jangan berdasarkan nama perusahaan yang Anda kira memilikinya.

3. Nama perangkat berbeda dengan nama jualnya

Daftar sertifikat memuat kolom nama perangkat dan kolom nama pemasaran secara terpisah. Nama perangkat sering berupa deskripsi teknis, misalnya 16-Port Gigabit Unmanaged Switch, sementara di toko produk itu dijual dengan nama model pendek.

Cara mengatasi: cari dengan nomor model dari label produk, bukan nama dagangnya.

4. Penulisan merek juga bercabang

Masalah yang sama terjadi pada kolom merek. Setelah dirapikan masih ada 6.387 penulisan merek berbeda di database. Sebuah merek bisa tercatat dengan spasi, tanpa spasi, atau dengan tanda hubung. Ada pula merek yang tercatat bersama nomor modelnya sekaligus, sehingga tidak akan pernah cocok bila Anda mencari nama mereknya saja.

Cara mengatasi: coba beberapa variasi, termasuk tanpa spasi dan tanpa tanda hubung.

5. Anda mencari nomor dengan format yang salah

Sekitar 79 persen sertifikat di database bernomor akhiran SDPPI, bukan DJID, dan ada 5.413 nomor berformat lama yang bentuknya sama sekali berbeda, misalnya empat ruas dengan angka Romawi. Menyalin nomor dengan spasi atau tanda baca tambahan juga membuat pencarian gagal.

Cara mengatasi: salin nomor persis seperti tertera, tanpa spasi tambahan. Penjelasan tiap bagian nomor ada di arti nomor sertifikat Postel.

6. Sertifikatnya memang tidak ada

Setelah lima kemungkinan di atas dicoba dan hasilnya tetap nihil, barulah kesimpulan ini masuk akal. Bila Anda pembeli, itu tanda untuk berhati-hati. Bila Anda penjual, itu tanda produk Anda berisiko ditarik dari peredaran atau listing-nya dihapus.

Perlu diingat juga bahwa daftar sertifikat yang dicabut dipublikasikan terpisah dari daftar sertifikat terbit, sehingga sebuah nomor bisa saja tidak muncul di daftar terbit karena berada di daftar yang lain.

Urutan pencarian yang kami sarankan

  1. Mulai dari nomor model pada label produk.
  2. Kalau nihil, coba nama merek tanpa spasi dan tanda hubung.
  3. Kalau masih nihil, coba potongan nama perusahaan tanpa PT, CV, atau tanda baca.
  4. Kalau masih nihil, coba potongan nama teknis perangkat, misalnya hanya kata switch atau access point.
  5. Baru setelah itu simpulkan sertifikatnya tidak ada.

Metodologi

Angka dihitung tim Izin Postel dari salinan daftar Sertifikat Terbit DJID yang diambil 1 Agustus 2026 dari sertifikasi.postel.go.id, berisi 115.659 baris. Jumlah ejaan dihitung dari kolom nama pemohon dan kolom merek apa adanya, lalu dibandingkan dengan hasil setelah penulisannya diseragamkan. Kami tidak menyebut nama perusahaan pada contoh variasi penulisan karena tujuannya menjelaskan pola, bukan menyoroti pihak tertentu. Izinpostel.com bukan situs resmi pemerintah; verifikasi resmi tetap di sertifikasi.postel.go.id.

Bacaan lanjutan

Sudah mencoba semua cara dan sertifikatnya tetap tidak ketemu? Kirimkan detail produknya lewat WhatsApp, akan kami bantu telusuri.