Anda mengirim satu produk untuk disertifikasi, lalu menerima daftar acuan yang isinya tiga atau empat Keputusan Menteri. Reaksi pertama biasanya curiga bahwa prosesnya sengaja dipersulit. Padahal penyebabnya ada di dalam produk itu sendiri.
Seberapa umum sebenarnya?
Sangat umum. Kami menghitung jumlah rujukan pada tiap sertifikat yang terbit sepanjang 2026.
| Jumlah acuan | Sertifikat 2026 | Porsi |
|---|---|---|
| 1 acuan | 4.510 | 57,34% |
| 2 acuan | 2.107 | 26,79% |
| 3 acuan | 448 | 5,70% |
| 4 acuan atau lebih | 799 | 10,16% |
Jadi 42,66 persen sertifikat yang terbit tahun ini mencantumkan lebih dari satu acuan, dan satu dari sepuluh mencantumkan empat atau lebih. Ini bukan pengecualian, melainkan kondisi normal untuk produk modern.
Kenapa bisa begitu?
Karena standar teknis di Indonesia disusun per kelompok teknologi, bukan per jenis produk. Satu Keputusan Menteri mengatur perangkat jarak pendek seperti Bluetooth dan NFC, satu lagi mengatur jaringan area lokal radio atau Wi-Fi, satu lagi mengatur pemancaran daya nirkabel, dan seterusnya.
Konsekuensinya, sebuah produk diuji sebanyak fitur nirkabel yang dikandungnya. Contoh nyata:
- Access point Wi-Fi biasa: satu acuan.
- Speaker dengan Wi-Fi dan Bluetooth: dua acuan.
- Dudukan ponsel di mobil dengan pengisian nirkabel dan Bluetooth: dua acuan, dan ini terlihat nyata pada sertifikat wireless charger yang mencantumkan dua Keputusan Menteri sekaligus.
- Ponsel: bisa empat atau lebih, karena memuat seluler, Wi-Fi, Bluetooth, NFC, dan batas paparan radiasi sekaligus.
Apa dampaknya bagi Anda?
Tiga hal, dan semuanya soal perencanaan.
Biaya pengujian bukan biaya per produk, melainkan per fitur. Menambahkan satu fitur nirkabel ke produk berarti menambah satu rangkaian pengujian. Ini yang sering membuat perkiraan biaya awal meleset jauh.
Waktu ikut bertambah. Pengujian beberapa fitur tidak selalu bisa berjalan serentak, terutama bila melibatkan laboratorium berbeda.
Salah menghitung fitur berarti salah memilih acuan. Dan salah acuan adalah kesalahan paling mahal dalam proses ini, karena laporan hasil uji yang sudah dibayar berisiko tidak terpakai. Peta acuan yang berlaku sekarang kami uraikan di peta acuan standar teknis 2024 sampai 2026.
Cara menghitung fitur produk Anda
Buka datasheet, lalu daftarkan setiap kemampuan nirkabelnya secara terpisah. Yang perlu dicari antara lain:
- Wi-Fi, termasuk pita frekuensinya, karena pita 6 GHz diatur tersendiri.
- Bluetooth, termasuk versi dan mode-nya.
- NFC atau RFID.
- Seluler, bila ada modul 4G atau 5G.
- Pengisian daya nirkabel.
- Pengendali radio jarak pendek, misalnya remote pada mainan atau alat rumah tangga.
Kalau daftar Anda lebih dari satu baris, kemungkinan besar sertifikat Anda akan mencantumkan lebih dari satu acuan. Contoh produk tak terduga yang ternyata masuk kategori ini ada di perangkat tak terduga yang bersertifikat Postel.
Metodologi
Dihitung tim Izin Postel dari salinan daftar Sertifikat Terbit DJID yang diambil 1 Agustus 2026 dari sertifikasi.postel.go.id, berisi 115.659 baris, dengan 7.865 sertifikat terbit sepanjang 2026 sampai 1 Agustus.
Kolom acuan sering memuat beberapa rujukan dalam satu sel yang dipisahkan koma dengan gaya penulisan tidak seragam. Kami memecahnya menjadi rujukan tunggal, menyeragamkan penulisannya, lalu menghitung rujukan unik per sertifikat. Sertifikat lama yang kolom acuannya kosong tidak diikutkan dalam hitungan 2026 karena pada tahun tersebut hanya ada satu baris tanpa acuan. Izinpostel.com bukan situs resmi pemerintah.
Ingin dihitung dulu berapa fitur produk Anda yang perlu diuji, sebelum biaya keluar? Kirimkan datasheet lewat WhatsApp.