Saat membaca kolom acuan pada sertifikat Postel, sebagian besar isinya adalah Keputusan Menteri atau Peraturan Direktur Jenderal. Lalu tiba-tiba muncul nama yang berbeda sendiri: CISPR 32, CISPR 22, atau CISPR 32 Edition 2.0. Bukan aturan Indonesia, tetapi tercatat resmi di sertifikat.
Seberapa sering CISPR muncul?
Kami menghitungnya dari 115.659 baris daftar Sertifikat Terbit.
| Tahun terbit | Sertifikat menyebut CISPR | Porsi tahun itu |
|---|---|---|
| 2022 | 993 | 13,20% |
| 2023 | 826 | 9,14% |
| 2024 | 857 | 8,11% |
| 2025 | 1.016 | 9,28% |
| 2026 (sampai 1 Agustus) | 599 | 7,62% |
Sepanjang seluruh database, CISPR tercatat pada 8.406 sertifikat atau 7,27 persen. Jadi ini bukan kejadian langka, melainkan bagian tetap dari lanskap sertifikasi Indonesia.
Apa itu CISPR?
CISPR adalah singkatan dari Comité International Spécial des Perturbations Radioélectriques, komite khusus internasional yang menyusun standar mengenai gangguan radio. Komite ini berada di bawah International Electrotechnical Commission atau IEC.
Fokusnya adalah kompatibilitas elektromagnetik, yang lazim disingkat EMC. Sederhananya, EMC menjawab dua pertanyaan: seberapa besar gangguan elektromagnetik yang dipancarkan perangkat Anda ke sekitarnya, dan seberapa tahan perangkat Anda terhadap gangguan dari perangkat lain.
Ini berbeda dari pengujian yang menjawab apakah perangkat Anda bekerja pada frekuensi dan daya yang diizinkan. Yang satu soal kepatuhan spektrum, yang satu soal saling mengganggu.
Kenapa standar internasional bisa jadi acuan di sertifikat Indonesia?
Karena standar teknis nasional lazim merujuk atau mengadopsi standar internasional untuk aspek tertentu, alih-alih menulis ulang seluruh metode ujinya. Dalam praktiknya, itu terlihat pada kolom acuan berupa gabungan: satu Keputusan Menteri untuk aspek spektrumnya, ditambah CISPR untuk aspek EMC-nya.
Pola gabungan ini terlihat jelas di data. Kombinasi seperti Perdirjen SDPPI 161 Tahun 2019 bersama CISPR 32, atau KM Kominfo 260 Tahun 2024 bersama CISPR 32, termasuk yang paling sering muncul.
Karena itu, kehadiran CISPR di sertifikat Anda hampir selalu berarti produk itu menjalani lebih dari satu jenis pengujian. Konteks lengkapnya ada di kenapa satu produk butuh beberapa acuan.
Versi CISPR yang berbeda-beda
Di data terlihat beberapa penulisan sekaligus: CISPR 22, CISPR 32, dan CISPR 32 Edition 2.0 2015-03. Angka setelah CISPR menunjukkan seri standarnya, sementara keterangan edisi menunjukkan versi terbitannya.
Yang perlu Anda perhatikan sebagai pemohon: versi standar yang dipakai balai uji harus sesuai dengan yang diminta untuk kategori perangkat Anda pada saat permohonan diajukan. Laporan hasil uji yang mengacu edisi lama berisiko dipermasalahkan, sama seperti risiko memakai acuan nasional yang sudah tidak dipakai lagi.
Apa yang perlu Anda lakukan
- Saat memesan pengujian, tanyakan secara eksplisit standar EMC mana beserta edisinya yang akan dipakai, jangan hanya menyebut uji EMC.
- Pastikan balai uji yang dipilih memang berkompeten untuk pengujian EMC, tidak hanya pengujian radio.
- Simpan laporan hasil uji EMC bersama laporan uji lainnya, karena keduanya bagian dari berkas yang sama.
- Bila produk diuji ulang beberapa tahun kemudian, periksa apakah edisi standarnya sudah berubah.
Metodologi
Angka dihitung tim Izin Postel dari salinan daftar Sertifikat Terbit DJID yang diambil 1 Agustus 2026 dari sertifikasi.postel.go.id, berisi 115.659 baris. Penghitungan dilakukan dengan mencari penyebutan CISPR pada kolom acuan, tanpa membedakan seri maupun edisinya, sehingga angka mencakup seluruh varian penulisan.
Penjelasan mengenai apa itu CISPR dan cakupan EMC bersifat umum dan bukan kutipan dari peraturan Indonesia. Untuk mengetahui standar mana yang berlaku bagi kategori perangkat Anda, rujuk Keputusan Menteri terkait di JDIH Kementerian Komunikasi dan Digital dan konfirmasikan ke balai uji. Izinpostel.com bukan situs resmi pemerintah.
Belum yakin pengujian EMC mana yang dibutuhkan produk Anda? Konsultasikan lewat WhatsApp sebelum memesan uji.